Implementasi Softskills Dapat Meningkatkan Kesantunan Berbicara
BAB 1: PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Bahasa sebagai sistem
lambang bunyi yang arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai
oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa mengandung
berbagai macam variasi sosial. Struktur
masyarakat yang selalu bersifat heterogen (tidak pernah homogen) memengaruhi struktur bahasa. Bahasa
berkembang sesuai perkembangan pemikiran manusia, maka bahasa mempunyai sifat
dinamis. Oleh
karena sifat kedinamisannya itu serta pengaruh globalisasi, penggunaan bahasa
di Indonesia banyak ragamnya, khususnya penggunaan bahasa Indonesia.
Bahasa memiliki arti
berdasarkan konvensi bahasa, yang oleh Riffaterre (dalam Al-Ma’ruf, 2009: 2)
arti bahasa disebut meaning (arti),
sedangkan arti bahasa sastra disebut significance
(makna). Sebagai medium karya sastra,
bahasa sastra berkedudukan sebagai semiotik tingkat kedua dengan konvensi
sastra. Adapun bahasa tersebut tidak akan pernah terlepas dari suatu konteks,
mengingat bahasa merupakan medium dalam karya sastra. Linguistik memiliki
beberapa cabang ilmu, yang diantaranya pragmatik, juga mengupas kaitannya
dengan bahasa serta konteks. Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara
bentuk-bentuk linguistik dan pemakaian bentuk-bentuk itu (Yule, 2006: 5).
Kancah yang dipelajari pragmatik mencakup empat hal, yaitu
(1) deiksis, (2) tindak ujar, (3) praanggapan, dan (4) implikatur (Mulyana,
2005: 79). Pada penelitian ini peneliti tertarik pada kancah pragmatik tentang
deiksis. Deiksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk salah satu
hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Deiksis berarti ‘penunjukkan’
melalui bahasa (Yule, 2006: 13). Kedudukan bahasa pada lingkungan sosial
memiliki peran penting satu diantaranya sebagai alat komunikasi. Bahasa sebagai
alat komunikasi antara penutur dengan
mitra tutur untuk mendapatkan informasi keduanya harus dapat menggunakan
bahasa yang mudah dipahami. Tidak sedikit masyarakat pada lingkungan tertentu
menggunakan bahasa sesuai dengan komunitasnya sehingga kebiasaan penggunaan
bahasa tersebut kurang tepat apabila digunakan dikhalayak. Penggunaan bahasa
Indonesia dapat diterima dengan baik dikhalyak apabila penutur dapat
menempatkan kesantunan dalam berbicara.
Kesantunan dapat
dijadikan dasar untuk meningkatkan kemampuan
berbicara penutur di depan khalayak. Kesantunan berbicara diharapkan dapat diterapkan pada lingkungan
remaja karena kesantunan perilaku seseorang dapat dinilai dari cara berbicara.
Mitra tutur akan merasa dihormati apabila penutur dapat menggunakan kesantunan
dalam berbicara. Penggunaan softskills dapat
meningkatkan kesantuan berbicara khususnya terhadap siswa menengah kejuruan
(SMK) yang digunakan sebagai bekal bekerja. Berdasarkan paparan tersebut, maka
peneliti mengambil judul “Peningkatan Kemampuan Kesantuan Berbicara di Depan Khalayak dengan Pendekatan Softskills SMK Muhammdiyah 4 Surakarta”.
1.2
Rumusan
Masalah
a. Bagaimana
tingkat kesantunan berbicara siswa SMK MUH 4 Surakarta di depan khalayak ?
b. Bagaimana teknik kesantunan berbicara
siswa SMK MUH 4 Surakarta di depan khalayak dengan skills
?
c. Bagaimana
implementasi softskills dapat
meningkatkan kesantunan berbicara siswa SMK MUH 4 Surakarta di depan khalayak ?
1.3
Tujuan
a. Memaparkantingkat kesantunan
berbicara siswa SMK MUH 4 Surakarta di depan khalayak.
b. Memaparkan teknik kesantunan
berbicara siswa SMK MUH 4 Surakarta di depan khalayak dengan skills.
c. Memaparkan implementasi
softskills dapat meningkatkan
kesantunan berbicara siswa SMK MUH 4 Surakarta di depan khalayak.
1.4
Manfaat
Terdapat manfaat teoritis dan praktis
dalam penelitian ini.
1.Manfaat
Teoritis
Secara teoritis
penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman, acuan, dan informasi
berkaitan dengan studi analisis wacana dalam kajian pragmatik yang digunakan
sebagai usaha meperoleh pengetahuan tentang penggunaan deiksis sosial berupa
bentuk kesantunan berbicara .
2.Manfaat
Praktis
a. Penelitian
ini dapat dijadikan bekal pengalaman penelitian yang nantinya bermanfaat untuk
dibagikan pada anak didik.
b. Bermanfaat
untuk bahan diskusi sebagai tambahan wawasan.
c. Bermanfaat
sebagai bahan rujukan para penulis dalam kaitannya pemanfaatan penggunaan
deiksis sosial untuk karya-karya selanjutnya.
1.5
Luaran yang Diharapkan
Penelitian ini diharapkan dapat menanamkan kesantunan berbicara terhadap khalayak. Oleh karena, teknik yang diggunakan untuk menanamkan kesantunan berbicara adalah dengan menggunakan pendekatan softskils. Penanaman kesantunan berbicara terhadap siswa SMK diharapakan mempunyai softskills yang baik terhadap khalayak dalam dunia kerja.
1.6 Kegunaan
Program
Penelitian berguna untuk pedoman dalam membentuk kesantunan berbicara bagi peserta didik di SMK Muhammadiyah 4 Surakarta dengan pendekatan softskllis.
BAB
2:TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Kajian
Teori
2.1.1
Hakikat
Variasi
Bahasa
Sebagai
sebuah langue, bahasa mempunyai
system dan subsistem yang dipahami oleh penuturnya.Walaupun penutur bahasa
tersebut berada dalam masyarakat tutur, tidak merupakan kumpulan yang homogen,
maka wujud bahasa yang disebut parole menjadi
tidak seragam.Bahasa itu menjadi beragam dan bervariasi.Terjadinya keberagaman/
kevariasian bahasa ini karena dipengaruhi oleh para penuturnya yang
heterogen.Berikut adalah jenis-jenis variasi bahasa.
a. Variasi
Bahasa
dari Segi
Penutur
1) Idiolek,
yaitu variasi bahasa yang bersifat perorangan.
2) Dialek,
yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang
berada pada suatu tempat, wilayah, ataupun area tertentu.
3) Kronolek,
variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok social pada masa tertentu.
4) Sosiolek,
variasi bahasa yang berkenan dengan status, golongan, dan kelas sosial para
penuturnya.
b.Variasi
Bahasa
dari Segi
Pemakaian
Variasi
bahasa dari segi penggunaannya disebut fungsiolek, ragam, atau register.
Variasi bahasa dari segi pemakaiannya ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan
untuk keperluan atau bidang apa.
c. Variasi
Bahasa
dari Segi
Keformalan
1) Ragam
beku, yaitu variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam
situasi-situasi khidmat dan upacara-upacara resmi. Disebut ragam beku karena
pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap dan tidak dapat diubah.
2) Ragam
resmi atau formal, yaitu variasi yang digunakan dalam pidato ketatanegaraan,
rapat, dinas, ceramah kegamaan, buku-buku pelajaran, dan sebagainya.
3) Ragam
usaha atau konsultatif, yaitu variasi bahasa yang lazim digunakan dalam
pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi
pada hasil atau produksi.
4) Ragam
santai atau kasual, yaitu variasi yang digunakan dalam situasi tidak resmi
untuk berbincang-bincang pada keluarga atau teman karib pada waktu
beristirahat, berolahraga, berekreasi, dan sebagainya.
5) Ragam
akrab atau intim, yaitu variasi bahasa yang biasa digunakan oleh penutur yang
sudah berhubungan dengan akrab, seperti antaranggota keluarga, atau antarteman
yang sudah akrab.
d.
Variasi Bahasa dari Segi Sarana
1) Ragam
lisan, yaitu variasi bahasa yang disampaikan secara lisan, misalnya melalui
telephon atau telegraf.
2) Ragam
tulis, yaitu variasi bahasa secara tertulis, misalnya berupa teks, naskah, dan
sebagainya.
(Chaer
dan Agustina, 2010:61-73).
2.1.2
Pengertian
Softskills
Softskillsadalah sebuah istilah
dalam sosiologi tentang EQ (Emotional Intelligence Quotient) seseorang, yang
dapat dikatagorikan /klusterkan menjadi kehidupan sosial, komunikasi, bertutur
bahasa, kebiasan, keramahan, optimasi (Wicaksana, 2014).
2.1.3
Kategori
Softskills
Intra-personalskill:
ketrampilan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri untuk pengembangan kerja
secara optimal.
Inter-personalskill:
ketrampilan seseorang dalam hubungan dengan orang lain untuk pengembangan kerja
secara optimal(Wicaksana, 2014).
2.1.4
Contoh
Softskills
Kejujuran, Tanggung Jawab, Berlaku adil, Kemampuan
bekerja sama,Kemampuan beradaptasi,Toleran, Hormat terhadap sesama, Kemampuan
mengambil keputusan, Kemampuan, memecahkan masalah.
2.1.5
Contoh
Intra-Personal Skills
a. Manajemen waktu
b. Manajemen stress
c. Manajemen perubahan
d. Karakter transformasi
e. Berpikir kreatif
f. Memiliki acuan tujuan positif
2.2
Penelitian
Relevan
Hamidah
(2012) “Model Pembelajaran Softskills Terintegrasi Pada Siswa SMK Program
Studi Keahlian Tata Boga”. Pembelajaran Soft Skills Terintegrasi pada
Siswa SMK Program Studi Keahlian Tata Boga. Kajian model pembelajaran softskills terintegrasi bertujuan untuk mengkaji model
hipotetik dari pembelajaran soft skills siswa SMK Boga. Model dikembangkan
berdasarkan kajian konsep-konsep softskills dikaitkan dengan konteks pembelajarannya
pada bidang tata boga. Softskills diidentifikasi dari kurikulum jasa boga
kelompok produktif dan dieksplorasi dari dunia industri terkait. Kemudian softskills dari hasil identifikasi ini diintegrasikan dengan pendekatan topik dan
multi target. Implementasinya dalam pembelajaran menggunakan pendekatan psikologi
pemebelajaran eklektik antara behaviourisme, kognitvisme, konstruktivisme, dan
humanisme. Rancangan model ini menekankan peran aktif siswa mulai dari
merancang perilakusoftskills, mengkonstruk softskills terintegrasi
melalui pengalaman belajar berbasis manajemen kinerja, dan melakukan refleksi
untuk perbaikan berkelanjutan.
Penelitian Lestariani
(2014) deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wujud
kesantunan bahasa yang digunakan oleh siswa kelas X SMA Negeri 1 Selemadeg
dalam debat, (2) kesantunan bahasa siswa yang hendak dicapai oleh guru dalam
debat pada pembelajaran berbicara di kelas X SMA Negeri 1 Selemadeg, (3)
aktivitas berbicara dalam debat di kelas X SMA Negeri 1 Selemadeg. Untukmencapaitujuanitu, penelitianinimenggunakanrancanganpenelitiandeskriptifkualitatif.Subjekpenelitianiniadalah
(1) guru matapelajaranBahasadanSastra Indonesia yang mengajar di kelas X SMA
Negeri 1 Selemadeg, dan (2) siswakelas X SMA Negeri 1 Selemadeg.Metode yang
digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah dengan menggunakan tiga metode pengumpulan
data. Pertama, metode observasi atau pengamatan, yang kedua adalah metode wawancara, dan
yang ketiga adalah metode dokumentasi untuk mendapatkan data yang dianggap perlu dan penting untuk diketahui.
Data-data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan model analisis deskriptif kualitatif melalui (1)
reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penyimpulan dan verifikasi
data. Hasil penelitianini 1.Wujud kesantunanbahasa yang digunakan oleh siswa kelas X SMA N
1 Selemadeg dalam debat adalah bahasa yang santun dan sesuai dengan prinsip kesantunan berbahasa. Siswa mampu mengungkapkan pendapat yang
logis secara lancer dan sopan dengan memperhatikan aturan-aturan debat. 2.Kesantunan bahasa siswa yang hendak dicapai oleh guru
adalah kesantunan berbahasa menurut (Leech, 1986). Empat prinsip tersebut adalah (1)
prinsip kesopanan, (2) pemakaian kata tabu, (3) penggunaan eufemisme, (4)
penggunaan kata honorifik.3.Pada pembelajaran berbicara dalam debat yang
dikembangkan guru, pada umumnya siswa aktif dan kritis. Di samping siswa yang aktifdankritis, ada juga beberapa siswa yang
pasif dan kurang berkontribusi dalam kelompok pada saat pembelajaran berbicara dalam debat berlangsung. Disarankan hasil penelitian ini dapat bermakna dalam pembelajaran berbahasa, khususnya dalam pembelajaran debat.
Wirda(2012) “Softkills MelaluiPendekatanStudent
Centre Learning di Perguruan Tinggi dan ngeri dalam Polibisnis,”.
Perguruan Tinggi merupakan penyedia jasa pendidikan yang para lulusannya akan
diserap oleh dunia kerja (user). Bekal ilmu yang dibawa dari Perguruan
Tinggi yang dilegalkan oleh ijazah transkip nilai (IPK) dianggap modal untuk
bisa bertarung memenangkan peluang kerja. Namun kondisi diluar sangatlah
kompetitif karena jumlah lulusan Perguruan Tinggi baik program Diploma maupun
Sarjana yang selalu meningkat setiap tahun sementara daya serap lapangan kerjasangat terbatas.
Madina(2013)
“MembangunKarakterAnakUsiaDinimelaluliPembinaanSoftskillsIslamiyah”. Anak-anak Indonesia
dewasa ini diperhadapkan pada salah satu efek globalisasi, yakni demoralisasi
yang ditandai dengan kemerosotan etika kesantunan. Karena itu, orangtua dan
pendidik harus menyiapkan pola pembinaan karakter anak usia dini sebagai tunas
bangsa secara tepat berdasarkan ajaran Islam yang sejalan dengan budaya bangsa.
Pola pembinaan ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu; pertama,
behavioristik empirik dengan pertimbangan bahwa anak usia dini adalah sosok
peniru ulung dan pebelajar ulet. Kedua, pendekatan Islamiyah, yakni pembinaan
karakter anak usia dini yang dibingkai dengan soft skill islamiyah yang
dibangun melalui prilaku praktis seperti; pelaksanaan nilai-nilai Tauhid yang
benar, menghidupkan budaya sholat, membiasakan anak membaca al-Quran dan Hadis,
mendidikan akhlak yang mulia, dan menjauhi perbuatan yang haram.
BAB
3: METODE
PENELITIAN
3.1 Jenis
Penelitian
Pendekatan
yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus, untuk mengungkapkan
dan memahami kenyataan-kenyataan yang terjadi secara mendalam yang berkenaan
dengan fenomena di atas.
3.2
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan pada bulan MaretsampaiJuli 2014 bertempat di SMK Muhammadiyah 4 Surakarta.
3.3
Data dan Sumber Data Penelitian
Data
penelitian dalam penelitian ini adalah kesantunanberbicarayang ada di SMK Muhammadiyah 4 Surakarta. Sumber data penelitian
dalam penelitian ini adalah siswadan
guru.
3.4
Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data adalah teknik yang digunakan untuk menjaring data yang
diperlukan sesuai dengan sampel yang telah ditentukan. Penelitian ini menggunakan
tiga teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.
3.4.1
Observasi
Observasi adalah pengamatan dan
pencatatan sesuatu obyek dengan sistematika fenomena yang diselidiki. Teknik
observasi yang digunakan dalam penelitian ini, dengan melakukan pengamatan dan
pencatatan terhadap data-data yang diperlukan terkait penelitian yaitu data-data
terkait bentuk-bentuk kesantunan
berbicara
yang terdapat di SMK
Muhammadiyah 4
Surakarta.
3.4.2
Wawancara
Wawancara
merupakan proses
tanya jawab antara pihak peneliti dengan pihak-pihak yang terkait dengan
penelitian. Dalam teknik ini, peneliti melakukan wawancara denganguru dan siswa SMK Muhammadiyah 4 Surakarta.
3.4.3
Dokumentasi
Dokumentasi
adalah proses pengumpulan data dari berbagai sumber. Dokumen-dokumen yang
terkumpul dalam penelitian ini berupa foto, catatan mengenai kesantunan berbicara.
3.4.4
Teknik Analisis Data
Pada
tahap analisis data, peneliti menelaah seluruh data yang terkumpul, baik dari
wawancara, pengamatan, foto-foto, dan datakesantunan berbicara dari SMK Muhammadiyah 4 Surakarta.
Selanjutnya, peneliti melakukan reduksi data, memilah-milah seluruh data yang
terkumpul dengan mengurangi data-data yang tidak penting.
3.4.5
Teknik Verifikasi Data
Pada
tahap teknik verifikasi data, peneliti menarik kesimpulan/ menyajikan hasil
berdasarkan penelitian yang dilakukan sesuai dengan data yang terkumpul dan
teori-teori yang ada.
Komentar
Posting Komentar